JERAT-JERAT KEMBANG BERTUAN

Nada-nada harmoni alam mulai terdengar teduh di telinga; suara kicau burung dan lompatan cerlih dari satu tangkai ke tangkai yang lainnya meninggalkan suara halus yang sedikit meneduhkan batin. Kelakar mereka dalam menyambut pagi menyiratkan semangat untuk berbuat sesuatu untuk kesempurnaan hari ini. Dedaunan tertiup angin segar nan halus, seperti mengajak untuk bergumul, menapaki keteduhan yang dibuatnya. Mentari pun belum terlalu keras bersinar, berkasnya seolah menyiratkan harapan nyata untuk kebahagiaan di hari ini.

Di balik jendela yang minimalis itu terpotret wajah Riana yang sejak subuh tadi sudah menyambut harinya dengan rutinitas yang nyaris tanpa beban. Ada siratan kebahagiaan yang terpatri di wajah halusnya yang terlihat mengkhianati umurnya yang sudah tidak belia lagi. Ada lelah yang membuat fisiknya harus terhenti dan kini menyimpan sorot matanya keluar jendela; mematungkan badannya yang cukup ideal, namun tak tampak ada beban yang terlihat di wajahnya.

Perlahan dia menyunggingkan senyum penuh arti; sedikit menggambarkan pikiran dan hatinya yang tampak sedang harmonis.

“Aku jatuh hati, Tuhan!” gumam batinnya yang terdalam.

Angin halus menerpa jendela yang membingkai dirinya, menyibakan jilbab maroon yang menjulur panjang menutupi hampir seluruh badannya. Lekuk tubuhnya hampir terukir oleh tiupan alam yang sedikit tak tahu malu itu. Bergegas ia menarik balutan busananya; walaupun tampak tak seorangpun yang memperhatikannya. Spontan, ia pun memperhatikan dadanya; memastikan rasa aman dari penglihatan orang lain.

Tak berselang lama, ia pun kembali asik memperhatikan suasana alam yang tampak cantik membalut setiap sudut halaman Villa mewah yang mewadahinya kini. Pikirannya melayang ke belakang, menjauh dari realitasnya kini. Pertemuannya dengan sahabat lama tempo hari, atau entah beberapa minggu ke belakang, tanpa disadari telah mengubah suasana hatinya yang halus.   

 “Sedang apa, Mom? Cantik benar hari ini!”

Suara itu, mengagetkan Raina dari diamnya yang penuh arti. Seolah, dia sedang berlayar di lautan yang tenang tiba-tiba ada ombak besar yang meluluh lantakkan perahunya. Ia pun bergegas meracik ulang hati dan pikirannya, agar perahu kembali berlabuh dalam keteduhan dan ketenangan. Dirapikannya kembali balutan hijab yang menghiasi dirinya, walaupun sungguh sudah terlihat rapi nan anggun.

Perlahan ia membalikkan badannya dengan halus, beriringan dengan tiupan angin mesra yang seakan menggandengnya untuk berbalik; menyambut pria tampan yang sudah bediri di hadapannya kini. Rainapun  menyunggingkan senyum terbaiknya.

Eh, Mas!?” jawabnya lirih. Ada ketenangan dalam sikapnya, namun entah di dalam hatinya? Racikan sikapnya yang sangat sempurna, membuatnya terlihat ‘nikmat’ di pandangan pria yang sudah lama mencintainya itu.  

Waktuku terombang-ambing saat menemukan dirinya

Entah apa yang membuatku sibuk memikirkannya

Dalam gelap

Dalam terang

Malu atau tak tahu malu, rasanya

Aku selalu ingin bersua dengan dirinya

Sihir parasnya membuatku harus meminta ampun kepada sang Pencipta

Aku luluh, dan luluh

Dan aku pun terjerat, dan mencintainya dalam ikatan yang suci

Tulis pria itu, kala itu, kala ia mengikat janji setia dalam balutan pernikahan bersama perempuan yang kini sedang bediri anggun dihadapannya.

Raina, tanpa basa basi lagi, mendekatinya, dan memberikan sedikit pelukan mesra kepada suaminya tersebut. Dalam pelukannya, bibir tipisnya mendekati daun telinganya dan berbisik mesra.

“Aku sedang tidak waras, Tuan… Izinkan Aku mencintaimu tanpa Kau ganggu…”

***

(to be continued, Insyaa Allah)

Oleh: Muhammad Rofy Nurfadhilah. Pembuat, penjaja dan penikmat karya sastra.

Sering “Tergoda” Banyak Hal ketika Pergi ke Pasar atau “Mall?” Mungkin Lupa untuk Mendawamkan Dzikir ini!

Foto: Sudut Pasar Gedebage, Kota Bandung

Pasar atau سُوْقٌ  (dalam bahasa Arab) adalah tempat dimana terjadinya pertemuan antara penjual dan pembeli. Tidak hanya dari sisi ekonomi, namun dari sisi sosialpun merupakan bagian terpenting bagi kehidupan manusia; dimana terjadi interaksi  antar manusia dengan berbagai kepentingan dan latar belakang. Bahkan di masa dahulu, pada budaya Arab (baca: Quraisy) yang kental dengan nuansa perdagangan, Pasar Ukaz yang berada di Semenanjung Arab -misalkan- menjadi salah satu wadah tersendiri bagi semua kalangan untuk menunjukkan kebolehannya; dari para penyair yang ingin menunjukkan kebolehannya dalam bersyair sampai kepada pegulat yang ingin menunjukkan kekuatan dirinya. Sehingga tak heran bilamana pasar menjadi wahana menyenangkan bagi hampir semua kalangan di kala itu.

Tidak banyak terjadi pergeseran fungsi pasar -memang- kalau kita tilik pasar di masa kini, hanya saja, pasar sebagai wahana “hiburan” justru lebih kaya. Terbukti, dengan berdirinya pasar modern; mall; super mall; super market dan yang lainnya menjadikan pasar lebih banyak dijadikan wahana “hiburan” ketimbang sebagai wahana jual-beli saja. Tapi, tentunya tidak menggerus fungsi asli dari pasar, bahkan karena lebih “menyenangkan” maka disanalah geliat ekonomi pasar semakin tumbuh.

Kita (baca: pengunjung pasar) kerap kali “tergoda” dengan “hal lain” diluar tujuan kita untuk pergi ke pasar. Godaan apa yang dimaksud? Ya, termasuk kita yang awalnya ingin berhemat menjadi “autoboros” setelah berada di pasar, tanpa kita sadari dompet kita tiba-tiba menipis. What wrong? Keinginan kita atau memang ada “sesuatu” yang menggiring kita untuk melakukan hal itu?

Tidak hanya itu, bahkan masalah kriminalpun kerap kali terjadi di pasar. Sibuknya pasar dan mengalirnya “materi” dengan begitu derasnya menjadi “santapan nikmat” bagi mereka yang ingin mengais rezeki dengan jalan haram.

Mengenai masalah ini, cukuplah kita merenungkan kembali apa yang disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah haditsnya.

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah mesjid dan yang paling dibenci-Nya adalah pasar.” (HR. Muslim no. 671).

Mengapa dibenci? Sejatinya, cukuplah kita juga merenungkan kembali apa yang dikatakan para ulama dan para sahabat kala itu.

Imam An-Nawawi berkata: “Karena pasar, umumnya dalah tempatnya orang curang, menipu, transaksi riba, sumpah palsu, menyalahi janji, tidak ingat Allah, dan aktivitas lainnya yang semakna. Mesjid adalah tempat turunnya rahmat. Sementara pasar kebalikannya.” (Syarh Shahih Muslim, 5/171).

Sahabat Salman al-Farisi mengatakan: “Jika kamu bisa, janganlah menjadi orang yang pertama masuk pasar, dan yang terakhir keluar pasar. Karena pasar adalah tempat berkumpulnya setan dan di sana mereka menancapkan benderanya.” (HR. Muslim no. 2451).

Dalam riwayat lain, dari Abu Utsman, dari Salman radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan: “Pasar adalah tempat setan bertelur dan beranak pinak. Jika kamu bisa, jangan menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan yang terakhir keluar pasar. (HR. Ibnu Abi Syaibah 33987).

Demikian pula yang disampaikan sahabat Maitsam radhiyallahu ‘anhu. Beliau berkata: “Saya pernah mendengar bahwa Malaikat berangkat dengan membawa benderanya untuk menyertai orang yang pertama kali datang ke Masjid. Malaikat akan terus mendampinginya sampai dia pulang, dan masuk ke rumahnya dengan membawa bendera itu. Sementara setan berangkat membawa benderanya untuk menyertai orang yang pertama kali masuk pasar.” (HR. Ibnu Abi Ashim dalam al-Ahad wal Matsani, 5/183, dan sanadnya dishahihkan al-Hafidz Ibnu Hajar).

Dari riwayat-riwayat tersebut, seyogianya kita dapat berpikir dua kali untuk pergi ke pasar. Namun, kalaupun harus, maka tetapkanlah niat karena mengharap ridho Allah semata, disamping kita menetapkan tujuan pokok kenapa harus pergi ke pasar? Ada keperluan apa? Dan, sampai kapan kita harus berada di pasar? Dari sana, ajak pula teman, sahabat ataupun muhrim untuk menemani kita sekaligus mengingatkan kita apabila “tergoda” hal lain dari tujuan kita; termasuk jika terjadi kejahatan di luar kendali kita.

Pamungkas, ada doa yang diajarkan Rasulullah yang sejatinya adalah dzikir terbaik saat kita hendak memasuki pasar. Doa ini sekaligus menjadi senjata utama untuk melawan “godaan” pasar yang kerap kali “menghantui” para pengujungnya; yang paling terasa saat kita kembali ke rumah.

Dari ‘Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَخَلَ السُّوق فَقَالَ : لا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لا شَرِيك لَهُ، لَهُ الْمُلْك وَلَهُ الْحَمْد، يُحْيِي وَيُمِيتُ، وَهُوَ حَيّ لا يَمُوت، بِيَدِهِ الْخَيْرُ، وَهُوَ عَلَى كُلّ شَيْء قَدِير، كَتَبَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ، وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ، وَرَفَعَلَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ – وفي رواية: وبنى له بيتاً في الجنة –

“Barangsiapa yang masuk pasar kemudian membaca (zikir):Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiit, wa huwa hayyun laa ya yamuut, bi yadihil khoir, wa huwa ‘ala kulli syain qodiir (Tiada sembahan yang benar kecuali Allah semata dan tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah segala kerajaan/kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, Dialah yang menghidupkan dan mematikan, Dialah yang Maha Hidup dan tidak Pernah Mati, ditangan-Nyalah segala kebaikan, dan Dia Maha Mampu atas Segala Sesuatu)’, maka Allah akan menuliskan baginya satu juta kebaikan, menghapuskan darinya satu juta kesalahan, dan meninggikannya satu juta derajat – dalam riwayat lain: dan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga – ”.

Doa (atau dzikir) ini seyogianya mampu kita ucapkan; kita dawamkan; dan kita hayati ketika hendak akan memasuki pasar. Karena, dari sanalah diri kita akan terjaga dari “godaan” pasar yang sejatinya memang suatu “godaan”. Dan yang menjaga kita sejatinya adalah Dzat yang Maha Kuasa yang ada dalam kandungan doa ini.

Wallahu a’lam.

Semoga, dapat menambah wawasan kita tentang Islam, dan menjadi pemicu kita untuk terus belajar dan beramal saleh.

Penulis masih sangat fakir akan ilmu-Nya. Dengan segala kerendahan hati, penulis bersedia menerima tambahan ilmu; masukan; kritikan; saran mengenai tulisan ini dari segenap pembaca yang budiman. Semoga kita selalu ada dalam bimbingan-Nya. Aamiin.

Muhammad Rofy Nurfadhilah, penulis, praktisi dan pemerhati pendidikan Islam.

Khayalan, Bunuhlah!

Foto: Lentera Kalam Writer

Dulu, pernah berswafoto dengan seorang teman. Setelah selesai, diapun berujar, “Maukah kamu, aku tunjukan cara mudah untuk bahagia?” Akupun hanya diam. “Maka jadilah pengkhayal!” ujarnya kemudian.

Akupun mengikuti sarannya. Dan setelah beberapa tahun, akupun baru sadar bahwa aku tak pernah berswafoto dengan siapapun.

Dan kini, akupun memusuhi khayalan itu dan bahkan ingin sekali membunuhnya.

IMAM NAWAWI: ADA GIBAH YANG DIPERBOLEHKAN, APA SAJAKAH?

Foto Ilustrasi: Batik Bateng, Yogyakarta

Gibah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki arti membicarakan keburukan atau keaiban orang lain. Kata gibah sendiri sering disamakan dengan gunjing; bergunjing; atau menggunjing, semuanya hampir memiliki padanan makna yang sama, yaitu  membicarakan kekurangan orang lain; mengumpat atau memfitnah. Semua hal yang dibicarakan adalah keburukan tentang seseorang yang -tentu- orang tersebut merasa benci kalau keburukannya tersebut dibicarakan. Pengertian tersebut, sama dengan apa yang diungkapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallah dalam haditsnya.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخْيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدِ اغْتَبْتَهُ، وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tahukah kalian apa itu gibah?’ Lalu sahabat berkata: ‘Allah dan rasul-Nya yang lebih tahu’. Rasulullah bersabda: ‘Engkau menyebut saudaramu tentang apa yang dia benci’. Beliau ditanya: ‘Bagaimana pendapatmu jika apa yang aku katakan benar tentang saudaraku?’ Rasulullah bersabda: ‘Jika engkau menyebutkan tentang kebenaran saudaramu maka sungguh engkau telah gibah tentang saudaramu dan jika yang engkau katakan yang sebaliknya maka engkau telah menyebutkan kedustaan tentang saudaramu. (HR. Muslim no. 2589)

Bahkan dalam kalam-Nya yang mulia, jauh-jauh hari Allah ta’ala telah melarang perilaku gibah ini.

 يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اجْتَنِبُوْا كَثيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمُ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُم أَنْ يَأكُلَ لَحْمَ أَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۚ وَاتَّقُوْا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوّابٌ رَحيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah kamu mencari kesalahan orang lain dan jangan di antara kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? tentu kalian akan merasa jijik. Bertakwalah kalian pada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat dan Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat : 12)

Dalam ayat ini, Allah menegaskan larangan menggunjing (gibah) satu sama lainnya. Bahkan, mengunjing disamakan dengan memakan bangkai saudaranya, karena keburukan; kekurangan; kesalahan; aib seseorang itu ibarat sesuatu yang tidak berharga bahkan menjijikan layaknya bangkai yang harus dibuang atau dikubur rapat-rapat, agar “baunya” tidak menyebar kemana-kemana. Maka, orang yang membicarkan keburukan; kekurang; kesalahan; aib seseorang itu hakikatnya telah membuka “tutup” bangkai tersebut untuk dimakan sendiri bahkan untuk dibagikan; disebarkan; dan dimakan bersama-sama dengan yang lainnya.

Namun, adakah pengecualian terhadap larangan tersebut? Mengingat, dalam perkara Fikihpun seorang muslim diperbolehkan memakan daging Babi -misalkan- jika benar-benar terdesak. Imam Nawawi, salah satu ulama besar pengikut madzhab Imam Syafi’i, berusaha menjawab permasalahan tersebut. Dalam kitabnya yang masyhur, Riyadhus Shalihin, dalam Kitab XVIII; Hal-hal yang Dilarang, Beliau mengungkapkan bahwa ada gibah yang diperbolehkan namun dengan tujuan yang sah menurut ketentuan syar’i, yaitu sesuatu kemaslahatan yang tidak mungkin tercapai kecuali dengan melakukan gibah.

Penulis, menyarikannya ke dalam beberapa perincian yang menjadi sebab utama tentang dibolehkannya gibah tersebut. Pertama, pengaduan. Contoh, pengaduan seseorang yang dizalimi kepada penguasa atau hakim (pihak berwenang). Sehingga, yang teraniaya dapat terlindungi dan si pelaku penganiayaan dapat dihukum, dan jera (tidak melakukan kembali keburukannya). Seseorang yang dizalimi tersebut boleh mengungkapkan keburukan si penganiaya dengan sejelas-jelasnya.

Kedua, meminta bantuan agar dapat mengubah kemungkaran atau mengembalikan orang yang bermaksiat ke jalan yang benar. Contoh, ketika seseorang meyampaikan kemungkaran saudaranya kepada seseorang yang dirasa punya kekuatan dan pengetahuan untuk mencegah kemungkaran tersebut. Tentunya, dengan tujuan  agar orang yang berbuat mungkar tersebut dapat kembali ke jalan yang benar.

Ketiga, meminta fatwa. Contoh, ketika seseorang meminta fatwa tentang suatu permasalahan keluarga (suami atau istri) kepada seorang alim atau ulama tentang permasalahan yang dihadapinya, apakah permasalahan tersebut dibenarkan menurut syariat atau tidak? Maka seseorang boleh mengungkapkan keburukan tentang orang yang dimaksud untuk diketahui fatwa tentang permasalahannya.

Kesemuanya itu, menurut Imam Nawawi, alangkah baiknya seseorang yang menyampaikan keburukan seseorang untuk tujuan yang dibenarkan tersebut, tidak menyebutkan nama secara subjektif (identitasnya), karena walaupun tidak disebutkan identitasnya inti permasalahan tetap akan tertangkap dan orang yang diadukan tetap terjaga kehormatannya.

Keempat, menetapkan status “cela” terhadap perawi hadis yang memang memiliki cela, dengan tujuan untuk mengetahui suatu derajat hadis.

Kelima, bermusyawarah untuk mencegah suatu kemungkaran. Contoh, musyawarahnya kepolisian untuk mengungkapkan kejahatan seseorang, agar kejahatannya dapat dicegah.

Keenam, mengingatkan orang yang saleh terkait kelompok atau seseorang yang sering berinteraksi dengannya, yang ternyata seseorang atau kelompok tersebut adalah ahli bidah atau ahli fasik. Hal ini, bertujuan agar orang yang diperingatkan tersebut tidak terpengaruh oleh seseorang atau kelompok orang yang merupakan ahli bidah atau ahli fasik tersebut.

Ketujuh, mengadukan seorang pemegang kekuasaan kepada penguasa yang lebih tinggi karena penguasa yang diadukan tersebut dirasa tidak mampu memimpin, atau penguasa tersebut terbukti lalai, fasik, atau tidak menjalankan tanggung jawab dan amanah kekuasaannya.

Kedelapan, mengungkapkan tentang seseorang yang selalu menampakkan kefasikan dan bidah dengan bangganya. Dengan catatan, tidak menyangkut pautkannya dengan cacat; cela yang lain yang tidak ada hubungannya. Contoh, peminum khamer, penganiaya, pencuri dan yang serupa dengannya diungkapkan keburukannya tersebut, tapi tidak mencela fisiknya, misalkan.

Kesembilan, identitas. Apabila seseorang yang sudah dikenal dengan identitas khasnya dan seseorang tersebut rela dengan identitasnya tersebut, maka boleh diungkapkan atau disebut didepan yang lainnya untuk membantu mengenalnya. Seperti, perkataan: Fulan yang tunanetra, dan yang lainnya.

Demikian, beberapa hal yang menjadi pengecualian perilaku gibah yang seyogianya dapat dihindari dan ditinggalkan. Semoga, dapat menambah wawasan kita tentang Islam, dan menjadi pemicu kita untuk terus belajar dan beramal saleh.

Penulis masih sangat fakir akan ilmu-Nya. Dengan hati yang lapang dan penuh penghormatan, penulis bersedia menerima tambahan ilmu; masukan; kritikan; saran mengenai tulisan ini dari segenap pembaca yang budiman. Semoga kita selalu ada dalam bimbingan-Nya. Aamiin.

Disarikan dari Kitab Riyadhus Shalihin (dalam terjemahan), karya Imam Nawawi, Kitab XVIII: Hal-hal yang Dilarang. Subbab: Gibah yang Diperbolehkan, Hal. 491. Penerbit Jabal: Bandung. Cetakan Ke-10. Tahun 2018.

Muhammad Rofy Nurfadhilah, penulis, praktisi dan pemerhati Pendidikan Islam.

Rindu

Rinduku tak tuntas hanya dengan kata-kata

Perlu bersua dalam realitas

hingga tak ada belenggu semu yang membodohi

Aku tahu jarak itu pahit

tapi tak mungkin aku mencelanya

karena aku, kamu dan kita masih waras, dan menerima realitas ini dengan akal yang sangat sehat

Biarlah realitas bersemayam dalam hati

Hingga rindu itu dapat dicerna

dengan pikiran yang jernih dan hati yang murni

Punclut, Kota Bandung

Jumat, 25 Oktober 2019 M / 26 Shafar 1440 H

HIRUPLAH UDARA SEGAR!

Foto: “Cecendet”

ᴇʟᴜᴀʀʟᴀʜ, ʜɪʀᴜᴘʟᴀʜ ᴜᴅᴀʀᴀ sᴇɢᴀr, ᴀᴍʙɪʟᴀʜ ɴᴀғᴀs ʏᴀɴɢ ᴀɢᴀᴋ ᴘᴀɴᴊᴀɴɢ ᴅᴀɴ ᴋᴇʟᴜᴀʀᴋᴀɴ ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴘᴇʀʟᴀʜᴀɴ. ᴛᴀᴛᴀᴘʟᴀʜ ʜɪᴊᴀᴜɴʏᴀ ᴅᴀᴜɴ, ʙᴇʀᴊᴀʟᴀɴʟᴀʜ ᴅᴇɴɢᴀɴ ʟᴜʀᴜs ᴅᴀɴ ᴛᴇɢᴀᴋ. ᴊᴇʀɴɪʜᴋᴀɴ ᴘɪᴋɪʀᴀɴ ᴅᴇɴɢᴀɴ ᴍᴇɴᴜɴᴅᴜᴋᴋᴀɴ ᴘᴀɴᴅᴀɴɢᴀɴ ᴅᴀʀɪ ʜᴀʟ ʏᴀɴɢ ᴛɪᴅᴀᴋ ʜᴀʟᴀʟ ᴅᴀɴ sɪᴀ-sɪᴀ. ᴍᴜʀɴɪᴋᴀɴ ʜᴀᴛɪ ᴅᴇɴɢᴀɴ ɴɪᴀᴛ ʏᴀɴɢ ᴋᴜᴀᴛ ᴜɴᴛᴜᴋ (ʜᴀɴʏᴀ) ʙᴇʀʙᴜᴀᴛ ʙᴀɪᴋ.

ʙᴇʟᴀᴊᴀʀʟᴀʜ ᴍᴇɴᴇʀɪᴍᴀ ᴋʀɪᴛɪᴋᴀɴ, ᴋᴀʀᴇɴᴀ sᴇᴊᴀᴛɪɴʏᴀ ʏᴀɴɢ ᴋɪᴛᴀ ᴀɴɢɢᴀᴘ ʙᴀɪᴋ ʙᴇʟᴜᴍ ᴛᴇɴᴛᴜ ʙᴀɪᴋ ᴍᴇɴᴜʀᴜᴛ ᴏʀᴀɴɢ ʟᴀɪɴ.

ᴛᴇɴᴀɴɢ, sᴀɴᴛᴀɪ, ɪɴsʏᴀᴀ ᴀʟʟᴀʜ ᴛᴀᴋᴅɪʀ ʙᴀɪᴋ sᴇʟᴀʟᴜ ᴛᴇʀʙᴜᴋᴀ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴅɪᴘɪʟɪʜ.

“ᴛᴇɴᴀɴɢ, sᴀɴᴛᴀɪ, ɪɴsʏᴀᴀ ᴀʟʟᴀʜ ᴛᴀᴋᴅɪʀ ʙᴀɪᴋ sᴇʟᴀʟᴜ ᴛᴇʀʙᴜᴋᴀ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴅɪᴘɪʟɪʜ.”

Hari Ini adalah Hidup Kita

Foto: Kiara Payung, Sumedang, Jawa Barat

Hari kemarin telah berlalu dan bahkan menjadi sejarah, tapi bagaimanapun hari kemarin telah menjadi bagian dari hidup kita. Berbahagialah, maafkanlah, berdamailah dengan apapun yang telah terjadi di hari kemarin.

Hari ini, adalah hidup kita, realitas yang tidak bisa ditolak. Bertekadlah untuk memulainya dengan baik. Lakukan dengan ikhlas apapun yang akan kita lakukan.

Tersenyumlah, hadapilah setiap kekesalan; setiap hinaan; setiap kedongkolan; setiap kegagalan dengan doa, karena itu adalah senjata paling tajam.

Berdamailah dengan orang lain; berdamailah dengan lingkungan dan berdamailah dengan diri kita sendiri.

Bersyukulah, karena kebahagiaan dan kenikmatan itu tidak harus tampak dan terlihat oleh orang lain.

MENJAGA KEHARMONISAN ANTAR KELOMPOK UMAT BERAGAMA

Foto: Dokumen NU Online


Indonesia memiliki sumber daya alam yang kaya; lautan, pegunungan dan hutan yang terhampar luas dari Sabang sampai Merauke. Tidak ada yang harus dikhawatirkan ketika warga negaranya harus lahir, tumbuh dan hidup di negeri yang dijuluki kepulauan ini. Karena, kekayaan alam inilah yang menjadi surga dunia bagi warga negaranya, jika mampu mengolah dan mengelolanya. Namun, yang perlu dikhawatirkan dan perlu menjadi perhatian bangsa saat ini justru ada pada kekayaan pemikiran yang terus berkembang dari waktu ke waktu. Kekayaan itulah yang kemudian menumbuhkan banyak kelompok dengan pemikirannya yang berbeda-beda.


Sebut saja, Islam, agama mayoritas ini berdasarkan database Sistem Informasi Manajemen Penerangan Agama Islam (Simpenais) Kemenag RI di tahun 2019 ini, jumlah ormas Islam seluruh Indonesia sudah mencapai 2771 ormas Islam (sumber: Kemenag.go.id). Jumlah tersebut bukanlah jumlah yang sedikit, semuanya berkembang dan tersebar di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jika setengah dari jumlah warga negara yang beragama Islam adalah bagian dari dua ormas terbesar (baca: NU dan Muhammadiyah) tentunya setengahnya lagi menjadi bagian dari ormas-ormas lainnya, baik yang terlahir sejak lama maupun terhitung masih baru. Semuanya memiliki pemikiran; ideologi keormasan yang khas.


Kerap kali, perang pemikiran berkecamuk di kalangan mereka, yang berbuntut pada perang lisan maupun tulisan di media online maupun di forum-forum kecil seperti ruang kampus ataupun warung kopi. Diskusi-diskusi tanpa referensi dan kedalaman maknapun sangat masif dilakukan. Perbedaan kecil dalam tataran praktik ibadah, misalkan, semakin runcing karena diperdebatkan, yang justru semakin menenggelamkan dan mengaburkan persamaan sebagai suatu bangsa yang satu.


Masing-masing kelompok mengusung pemikirannya dengan landasan agama maupun dalil-dalil yang mereka pahami. Semuanya, merupakan kekakayaan pemikiran -yang dalam satu sisi bangsa ini harus berbangga diri, karena kebebasan berpikir dan menyampaikan pendapat masih terbungkus dengan baik melalui ideologi pancasila yang masih tertancap teguh.


Tapi, tentunya, kebebasan dalam berpikir dan berkelompok tersebut harus dijaga jangan sampai terjadi gesekan yang menimbulkan gangguan terhadap keharmonisan kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlebih-lebih, Islam sebagai agama yang dianut oleh umat terbesar, telah mewanti-wanti umatnya untuk menjaga keharmonisan ini. Salah satunya, Allah Ta’ala melarang hambanya untuk saling mengolok-olok.


Dalam surat Al-Hujurat ayat 11 Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan janganlah pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan-perempuan yang lain, (karena) boleh jadi perempuan-perempuan (yang diolok-olokkan) lebih baik dari perempuan-perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itu orang-orang yang zalim.”


Melihat tekstual ayat ini, rasanya sudah jelas, bahwa larangan ini berkaitan dengan lisan manusia yang senantiasa gegabah ketika berinteraksi dengan sesamanya; baik sebagai invidu maupun sebagai suatu kelompok. Mengafirkan dan membid’ahkan suatu kelompok Islam tertentu tanpa penelusuran dan pengkajian yang mendalam terhadapnya, misalkan, hal ini menjadi contoh nyata betapa kerasnya gesekan sebagian kelompok dengan kelompok yang lainnya.


Tidak hanya itu, dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar (memerintah kepada kebaikan dan mencegah kepada kemungkaran) sering disalahartikan sebagai legalisasi dakwah dengan cara apapun, termasuk dengan olokan; celaan atau hinaan yang berujung pada ketidakharmonisan antar kelompok umat beragama. Termasuk pelabelan secara personel kepada individu yang dianggapnya tidak sesuai dengan paham ideologi yang dianutnya. Seperti perkataan: si Ahli Subhat; si Ahli Bid’ah; si Kafir; dan label-label lainnya, tentu ini bukanlah cara elegan dalam berdakwah.


Prinsip masih merasa “fakir akan ilmu” atau prinsip merasa “tidak tahu” seyogianya dikedepankan agar merasa -selalu- perlu untuk belajar dari siapapun, termasuk dari kelompok yang lain. Sehingga, tercipta saling menghormati dan menghargai pendapat yang lain.


Di Hari Santri Nasional yang jatuh pada tanggal 22 Oktober 2019 nanti, semoga ini menjadi wacana tersendiri, mengingat santri tidaklah terlahir dari satu atau dua kelompok umat Islam saja, namun hampir semua kelompok umat Islam memiliki pesantren yang di dalamnya para santri belajar dan memperoleh pemahaman tentang prinsip agamanya. Santri sebagai bagian dari warga Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak hanya harus paham toleransi antar umat beragama, tapi juga harus paham tentang makna toleransi antar kelompok umat beragama. Sehingga, santri sebagai kader umat Islam mampu menciptakan keharmonisan dalam bingkai kehidupan berbangsa dan bernegara. **

Muhammad Rofy Nurfadhilah, penulis, praktisi dan pemerhati Pendidikan Islam.

MEMBACA FENOMENA GURU DARING

Menjamurnya aplikasi online yang menawarkan jasa pembelajaran bagi peserta didik yang sedang menempuh pendidikan pada jenjangnya masing-masing menjadi fenomena tersendiri di era digital saat ini. Baik yang berbayar maupun tidak rupanya aplikasi-aplikasi bertemakan pendidikan ini tidak mau ketinggalan dalam meramaikan dunia jejaring. Sebut saja Ruangguru, Quipper, KelasKita, Kelas Pintar yang merupakan keluaran pihak swasta ataupun Rumah Belajar yang merupakan keluaran resmi Kemendikbud. Semuanya cukup diminati oleh kaum pelajar yang ingin membantu dirinya dalam meningkatkan prestasinya dalam belajar.


Hal ini, menjadi perkembangan yang cukup positif bagi dunia pendidikan saat ini. Selain sebagai lahan bisnis bagi penyelenggara ataupun pembuat aplikasi tersebut, namun juga secara tidak langsung mampu membantu dalam mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945. Namun, apakah hal tersebut dapat mewakili kegiatan pembelajaran secara holistis seperti yang mereka dapatkan di lembaga pendidikan pada umumnya? Tentunya ada beberapa hal yang menjadi tinjauan menarik saat melihat fenomena ini.


Pertama, guru daring sejatinya adalah bagian dari teknologi yang keberadaannya tidak bisa berjalan tanpa adanya media atau perangkat, baik perangkat keras (hardware) maupun perangkat lunak (software). Maka user yang akan menggunakan fasilitas tersebut harus siap dengan perangkat tersebut. Pelajar yang tidak memiliki perangkat seperti PC, smartphone atau alat semacamnya tidak akan bisa menggunakan aplikasi ini.


Kedua, belajar dengan guru daring biasanya tidak terikat ruang dan waktu. Hal ini memberikan ruang yang lebih luas bagi pengguna untuk belajar kapanpun dan dimanapun, disesuaikan dengan kebutuhan dan keinginan peserta didik.


Ketiga, harus adanya keterampilan berteknologi ketika belajar dengan guru daring tersebut. Hal ini cukup mudah bagi mereka yang sering bersentuhan dengan dunia internet, tapi menjadi hal yang cukup sulit bagi mereka yang berada di bagian terdalam kepulauan Indonesia yang memiliki jaringan internet yang tidak begitu baik.


Keempat, guru daring menyuguhkan pembelajaran yang cukup kreatif dan menarik. Sebut saja, video ilustrasi dan animasi yang ada di dalamnya dapat menjadikan materi yang dianggap sulit menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Hal ini sangat menguntungkan bagi mereka yang daya tangkap belajarnya cenderung auditori dan visual, namun tidak bagi mereka yang daya tangkap belajarnya lebih cepat ketika melakukan gerak tubuh (kinestetis).


Kelima, meskipun ada interaksi yang diwadahi media, namun interaksi yang terdapat dalam guru daring tidak bisa mewakili tujuan secara kesuluruhan dari pendidikan. Karena di dalamnya belum mampu menanamkan nilai-nilai spiritual maupun nila-nilai karakter yang seyogianya dicontohkan oleh guru baik secara verbal maupun melalui sikap dan tindakannya secara terus menerus.


Cara bertanya dan berpendapat yang baik; hormat dan patuh; saling menghargai; jujur; disiplin dan penyaluran “energi positif” melalui motivasi verbal maupun nonverbal yang menjadi bagian dari tugas guru sebagai pendidik sejatinya tidak akan banyak ditemukan ketika berinteraksi dengan guru daring.


Dengan adanya fenomena ini, tentunya tugas guru sebagai pengajar akan terbantu karena memudahkan peserta didik dalam memahami pelajaran yang mereka pelajari. Namun, posisi guru sebagai pendidik di sekolah tak mungkin tergantikan oleh keberadaan media daring tersebut. Karena, ada nilai-nilai yang harus guru transfer kepada peserta didik melalui interaksi langsung yang berkesinambungan.


Akhirnya, maraknya guru daring adalah terobosan positif bagi kemajuan pendidikan bangsa ini. Namun, keberadaannya hanyalah penunjang sementara bagi pendidikan pokok yang seutuhnya hanya dapat diperoleh dengan interaksi nyata bersama guru di ruang belajar yang nyata, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar. **

Muhammad Rofy Nurfadhilah, penulis, praktisi dan pemerhati Pendidikan Islam.

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai